Selasa, 16 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Greg Hambali, Sang Penghulu Tanaman Hias

Rabu, 9 April 2008 | 14:33 WIB

Para penggemar tanaman hias pasti mengenal nama Gregori Garnadi Hambali atau biasa disapa Greg Hambali. Hasil karyanya dalam menyilangkan tanaman sudah bejibun. Karya terakhirnya yang sukses besar adalah tanaman aglaonema. Pada 2006 silam, aglaonema jenis harlequin hasil silangan Greg Hambali mampu terjual seharga Rp 660 juta lewat proses lelang.

Para penyuka tanaman menilai aglaonema hasil silangan Greg sangat menawan. Saat lelang, sang pemenang, Harry Setiawan, pemilik Irene Flora di Rawa Domba, Jakarta Timur, mengaku aglaonema Greg memang sangat pantas dihargai sebesar itu. Lelang ini menjadi harga termahal sepanjang sejarah tanaman aglaonema. "Kalau pun harga tidak mahal dari lelang, harga yang wajar juga akan terbentuk dari permintaan di pasar," terang Greg.

Tak ingin menyedot keuntungan yang berlipat dari hasil silangannya, Greg juga meyakinkan bahwa pemilik tunggal silangan pertama akan mendapatkan keuntungan pula. Sebab, jenis baru itu hanya satu orang yang punya. Jika nantinya dapat dianakkan, pemilik aglaonema jenis baru ini memiliki hak jual selama dua tahun. "Jika ingin punya aglaonema jenis baru tersebut, silakan membeli lewat pemilik pertama," katanya.

Keahlian mengawinkan tanaman adalah buah kecintaan Greg terhadap alam. Sejak kecil Greg memang sangat mencintai alam. Waktu masih bocah, ia punya hobi mengutak-atik tanaman. Pada saat duduk di kelas 4 SD, Greg bahkan memelihara lebah. "Lebah itu saya pelihara untuk diambil madunya," kenangnya.

Ketertarikan pada alam saat itu bukanlah turunan dari orang tua. Menurut anak ke empat dari lima bersaudara ini, kegemaran ini ia jalani secara naluriah. Karena ayah Greg adalah seorang montir elektro. "Ayah saya montir radio dan reparasi kelistrikan," jelasnya. Sedangkan sang ibu, merupakan ibu rumah tangga.

Untuk memperdalam pengetahuannya terhadap jenis-jenis tanaman, Greg suka keluyuran di hutan. Lantaran ilmu dari sekolah masih sangat minim, Greg pun menambah pengetahuannya dengan rajin membaca berbagai ilmu pengetahuan, tapi terutamanya yang berhubungan dengan tanaman.

Ilmu dari alam dan dari buku itu memang bermanfaat. Bahkan saat baru duduk di bangku SMP, Greg sudah mampu menyilangkan pepaya. "Saya menyilangkan pepaya burung dikawinkan dengan pepaya semangka (berbentuk bulat)," katanya.

Sebenarnya, proses ini susah. Apalagi kalau cuma berdasar pengetahuan sekolahan. Tapi, menurut Greg, untuk penyilangan pertama ini, ia berbekal membaca buku soal pembuatan varietas baru. Dan ketika percobaan perdana itu, Greg mengaku cuma iseng.

Begitu masuk SMU, tentu pengetahuan Greg bertambah. Ia mulai menyukai ilmu kimia. Menurutnya, semua pelajaran sains selalu berhubungan satu sama lain. Ia mulai membuat percobaan dengan mencampur bahan kimia. Ketertarikan di bidang sains ini membawa Greg memilih masuk ke jurusan biologi. "Saya kuliah Biologi Pertanian di IPB," terang Greg. Saat masuk bangku kuliah pada 1969, Greg semakin yakin bahwa itu adalah jalannya. Bahkan, ia semakin getol menyilangkan tanaman dan buah. Semasa itu, Greg mencoba menyilangkan tanaman jagung.

Keseriusan Greg di dunia tanaman menarik perhatian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kemudian merekrutnya sebagai pegawai. Menurut Greg, yang menariknya ke LIPI adalah Min Rifai. "Saya hanya bermodal ijazah SMU," terangnya. Dari situ, keingintahuan Greg terhadap beragam jenis tanaman, cara tumbuh, dan bagaimana sistem reproduksinya semakin berkembang. Di situ, ia juga mulai mempelajari serangga yang membantu reproduksi tanaman.

Minat yang besar pada tanaman menggiring Greg Garnadi Hambali untuk melanjutkan belajar di Inggris. Berbekal pengalaman itu, Greg lantas mengembangkan beragam varietas tanaman. Dari palem, salak, dan caladine. Salah satu karya silangan yang cukup terkenal adalah aglaonema. Jenis tanaman ini identik dengan Greg.

Greg senang menjadi pegawai di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Soalnya, ia bisa leluasa mengakses laboratorium LIPI untuk mengembangkan penelitian. Sejak mengawali karier di LIPI pada 1973 silam, ia sudah meneliti salak dan tanaman palem. Dari lab LIPI itu, ia bisa menghasilkan beberapa silangan.

Lantaran punya minat cukup besar di bidang konservasi dan pemanfaatan sumber-sumber daya genetik, Greg mendapat banyak tawaran untuk memperdalam ilmu di Inggris. "Saat itu saya belum menyelesaikan kuliah di IPB," jelas Greg. Ia baru menggondol predikat sarjana muda dan sedang proses mengerjakan skripsi.

Lantaran tak mau melewatkan peluang mendapat beasiswa, akhirnya Greg memutuskan meneruskan studi ke Inggris meski skripsinya belum kelar. "Saya mendapat beasiswa dari British Council," katanya. Pada 1975, ia berangkat ke Inggris untuk mempelajari pemanfaatan plasma nutfah.

Setahun kemudian, Greg berhasil menyelesaikan kuliah di Inggris dan pulang dengan nama baru: Gregori Garnadi Hambali, MSc. Ia langsung menyabet gelar master tanpa harus mengikuti program sarjana S1. Sepulang dari Inggris, pada 1978, Greg mulai mengaplikasikan ilmunya dengan membuat silangan caladium. Sayangnya, jenis ini tidak dapat bertahan lama. Sebab, menurutnya, walau modelnya bagus, tapi bentuk daunnya tidak kokoh alias loyo. Sehingga, dia pun harus terus mengembangkan agar lebih kuat. Namun rekor harga tertinggi caladium ini hanya Rp 50.000.

Greg juga meneliti tanaman talas. "Saya juga mengembangkan soka," kata Greg. Saat mengembangkan soka, ia tidak pernah mengomersialkannya. Dalam benak Greg hanya ada niat mengembangkan tanaman tropis dalam negeri agar lebih komersil. Caranya, dengan menyilangkan tanaman yang semula biasa menjadi tanaman yang luar biasa.

Lantaran idealismenya ini, kadang usaha Greg mengembangkan tanaman jadi terhambat. Maklum, sebagai seorang pegawai negeri, dia harus mengikuti program dari pemerintah. Merasa dikekang kebebasannya, pada 1983, Greg memutuskan keluar dari LIPI. "Saya ingin lebih mengekspresikan diri saja," dalihnya.

Cita-cita Greg adalah menciptakan tanaman varietas baru. Ini bukan persoalan gampang. Pasalnya, untuk tujuan ini, ia mengaku kesulitan mendapatkan dana membiayai proyek. "Pertama kali, saya, ya, jatuh bangun," ujarnya. Untung, beberapa teman yang mempunyai perhatian terhadap tanaman mau membantu Greg dengan mengucurkan modal.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Greg bekerja sebagai konsultan di sebuah nursery. Di sana, dia mempelajari tanaman palem. Pada 1986 tanaman ini pernah berjaya. Sayangnya, nilai ekonomis tanaman ini tidak dapat bertahan lama lantaran terjadi kelebihan pasokan di pasar. "Sekarang tanaman ini banyak digunakan untuk real estate," terangnya. Ia juga mengembangkan tanaman salak lantaran ingin menciptakan buah salak yang rasanya enak.

Kini, usia Greg sudah menjelang kepala enam. "Usia saya 59 tahun," katanya. Tapi semangatnya tidak kalah dari anak muda. Bahkan, dia masih sering jalan ke hutan untuk mencari tanaman yang bisa ia komersilkan.

Sekarang, Greg dikenal sebagai ahli penyilangan. Karyanya yang spektakuler adalah the big five aglaonema. Yaitu Tiara, Widuri, Hot Lady, Harlequin, dan Pride of Sumatra. Semua dihargai tinggi per lembar daunnya. Aglaonema Tiara, misalnya, harga per lembar daunnya sempat mencapai Rp 3 juta.

Walaupun sukses sebagai breeder aglaonema, Greg masih punya impian untuk menjadikan tanaman tropis di Indonesia lainnya bernilai jual tinggi. "Kalau bisa tanaman hias kita bisa menghasilkan devisa," harapnya.

Minat Gregori "Greg" Garnadi Hambali mengembangkan tanaman hias sangatlah besar. Pada 2000 lalu, Greg membuat heboh dunia tanaman hias setelah sukses menghasilkan the big five aglaonema, yakni Widuri, Tiara, Hot Lady, Harlequin, dan Sexy Pink. Bahkan saat dilelang banderol Harlequin mencapai Rp 600 juta. Luar biasa.

Tak percuma bertahun-tahun Greg Hambali melakukan riset penyilangan tanaman hias. Hasil karyanya sungguh luar biasa. Yang menghebohkan, tentu saja, hasil persilangan aglaonema. Sampai kini, banyak orang yang memburu tanaman hias yang satu ini. Mereka bersedia membayar dengan harga tinggi. "Aglaonema saya ini dihargai mahal karena memang indah," tutur Greg Hambali.

Awal mula Greg meneliti aglaonema pada akhir 1982. Ketika itu ia masih bekerja di LIPI. "Saat itu saya menjadi juri tanaman hias di Ancol," kenangnya. Karena cintanya pada tanaman, dia sudah mempunyai feeling, jika mengembangkan aglaonema tentu akan menjadi tanaman yang punya daya tarik luar biasa. Dia bilang, saat bertemu pertama dengan aglaonema, keindahannya sudah terpancar.

Sejak itu Greg mulai memelihara dan mengembangkan aglaonema. "Saya dikasih teman saat itu," ucapnya. Untuk menyilangkan aglaonema, Greg harus menunggu sampai aglaonemanya itu beranak. Nah, aglaonema silangan pertama Greg itu baru muncul pada 1986 dan 1987. Hasil karya pertama itu dia beri nama Pride of Sumatera.

Penyilangan pertama ini ternyata menarik minat pasar. Buktinya, harga per lembar daun  Pride of Sumatera sempat mencapai Rp 300.000. Harga yang mahal memang sebanding dengan kerja kerasnya. Butuh proses yang rumit untuk menghasilkan Pride of Sumatera. Untuk menghasilkan satu silangan baru, dia harus membuat indukan. Untuk itu semua, butuh waktu riset minimal tiga tahun. Meski idealnya hingga lima tahun. "Itu baru menjadi sebuah tanaman yang menarik," terang dia.

Satu hal yang kini jadi penyesalan Greg, dia tidak memperbanyak hasil karya silangannya itu.  "Ada seorang penangkar dari Thailand yang memperbanyak sampai 500.000 pot jenis Pride of Sumatera," ceritanya.

Jelas Greg tidak mendapat keuntungan dari penjualan aglaonema ini. Padahal jika tanaman ini dijual dengan harga Rp 20.000 per pot saja, bisa menghasilkan Rp 10 miliar. Greg mengakui, pengembangan tanaman hias di Indonesia terkendala oleh sempitnya lahan dan keamanan.

Setelah menghasilkan Pride of Sumatera, kreativitasnya tak berhenti. Tiga tahun setelah itu, Greg membuat karya baru, yakni aglaonema jenis Aloutte dan Donna Carmen serta Adelia. Pada 2000, Greg kembali menghebohkan dunia tanaman hias. Ia membuat the big five aglaonema, yakni Widuri, Tiara, Hot Lady, Harlequin, dan Sexy Pink. Saat dilelang pertama kali, banderol Harlequin hingga Rp 600 juta.

Namun Greg belum puas. Masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Masih banyak orang yang mau mengembangkan tanaman hias secara total. Dia menyayangkan fenomena goreng menggoreng harga tanaman hias, seperti yang terjadi pada anthurium akhir-akhir ini. Menurutnya, cara itu hanya melahirkan keuntungan sesaat. "Hanya mengambil gampangnya saja," kata Greg.

Indonesia sebetulnya punya segudang tanaman hias, termasuk di hutan. Sayang, hutan kini banyak dibabat dan diganti dengan kebun kelapa sawit. Tanpa memperhatikan plasma nutfah yang ada di dalamnya. Ia berharap orang harus punya pikiran jangka panjang dan berkomitmen pada hortikultura. (Avanty Nurdiana)


Editor :
Sumber: