DI INDONESIA 175.000 orang meninggal dunia per tahun akibat penyakit tuberkulosis /TB. Angka ini terbilang besar. Saat ini Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dari segi jumlah penderita tuberkulosis baru: 485.000 kasus baru per tahun. Nomor satu India dengan 815.000 kasus TB baru per tahun, nomor dua China 595.000 kasus TB baru per tahun.
"Hanya 68 persen kasus saja yang bisa dideteksi dan 87 persen di antaranya bisa disembuhkan. Sisanya menjadi sumber penularan, padahal satu orang penderita TB bisa menulari 10-15 orang," kata Zulkifli Amin dari Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo pada diskusi TB di Jakarta, Selasa (1/4).
Menurut Zulkifli, prevalensi penderita TB di Indonesia sebanyak 225 orang per 100.000 penduduk. Kalau berdasar prevalensi, Indonesia bisa nomor satu di dunia jika dibandingkan dengan jumlah total penduduk dengan India dan China, kata Zulkifli Amin.
Walaupun Indonesia telah mencapai kemajuan yang pesat dalam hal peningkata n penemuan kasus TB menular sebanyak 51,6 persen pada saat yang sama hasil ini memperlihatkan hanya setengah dari penderita TB yang dapat diobati di Puskesmas di seluruh Indonesia.
Tantangan berikutnya adalah belum terjamin berjalannya jejaring rujukan a ntara Puskemas, Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru, dan rumah sakit dalam pengobatan TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Therapy Shortcourse), di samping kasus-kasus dengan MDR (Multiple Drugs Resistance).
Menurut Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Hasbullah Thabrany, di Indonesia, kerugian ekonomis yang diakibatkan oleh TB mencapai Rp 8,5 triliun. Kerugian ini besarnya hampir separuh jumlah anggaran Departemen Kesehatan yang besarnya Rp 19 triliun.
"Tanpa kesadaran akan kerugian nasional, upaya pemberantasan TB secara klinik tidak akan selesai," kata Hasbullah Thabrany.
Dari data WHO yang dikutip Hasbullah Thabrany disebutkan, perjalanan alamiah dari 100 penderita TB Paru setelah lima tahun: 50 orang meninggal (menularkan dan perlu terapi), 25 orang tetap sakit dan kronis, 25 orang sembuh sendiri.
Jika TB mulai usia 15 tahun dan harapan hidup 60 tahun, maka 50 orang meninggal dunia pada usia 20 tahun. Yang kehilangan waktu produktif sebanyak 50 orang x (60-20) itu sama dengan 2.000 tahun per 100 orang.
"Jadi kita kehilangan waktu produktif 2.000 tahun per 100 orang. Kalau yang menderita TB sebanyak 1,5 juta orang, berapa tahun kerugiannya? " kata Hasbullah.
