Laporan Hans Jaap dari Amerika Serikat
Ketika berumur empat belas tahun, Carol Yu datang ke Amerika Serikat untuk mengikuti program perkemahan musim panas. Ketika itu dia sudah tahu bakal kuliah di universitas terhebat di Amerika. Carol yang kini berusia 25 tahun melihat-lihat kamarnya di asrama Universitas Harvard, di dekat Boston.
"Saya merasa betah di sini. Saya menilai, cara orang Amerika mengajar lebih cocok dengan saya ketimbang cara China," tuturnya. Menurut Yu sistem pendidikan China kurang menantang dan tidak banyak memberi ruang bagi ekspresi pribadi.
"Untuk menambah kans agar lulus ujian masuk di Harvard, dua tahun belakangan saya masuk sekolah lanjutan di Amerika. Tapi semula orangtua saya kurang setuju. Mereka lebih suka kalau anak tunggalnya tinggal dekat dengan mereka," kata Carol.
Akhirnya seorang paman kaya, yang bersedia membayar semuanya, berhasil meyakinkan mereka tentang manfaatnya. "Tapi ketika saya tiba di Amerika, ternyata sekolah tinggi tempat saya belajar adalah sebuah gereja bobrok yang hanya memiliki satu ruang kelas," katanya mengenang.
Carol Yu, saat itu enam belas tahun, mencari tempat tinggal lain dengan mengendarai mobil seorang teman. Tapi tidak ada yang mau menyambutnya. "Lalu kami berhenti di depan sebuah sekolah putri. Seorang biarawati membuka pintu. Ia adalah kepala sekolah. Ia mengatakan, sudah menantikan siswa seperti saya. Jadi saya beruntung."
Kini Carol Yu kini kuliah di Harvards Kennedy School of Government, sebuah lembaga pendidikan terkenal yang banyak menempa orang-orang terkenal.
"Ban Ki-moon, sekjen PBB, pernah kuliah di sini," tutur guru besar Hubungan Internasional Tony Saich dengan bangga. Direktur Harvard University Asia Center juga memperlihatkan foto-foto di kamar studinya. Di sana terlihat Saich bersalaman dengan perdana menteri dan pejabat-pejabat tinggi China lainnya.
Di Harvard ada sekitar 4.000 orang mahasiswa asing. Sepuluh persennya terdiri atas mahasiswa China. Selama enam belas tahun jumlah mereka bertambah lebih dari 80 persen. Tahun lalu Amerika memberi 50.000 visa kepada warga China yang mau kuliah atau mengikuti program pertukaran.
Pegawai Negeri
Carol tahu bahwa dia berbeda dengan mahasiswa China lainnya. "Saya dari keluarga miskin. Ketika saya masih bayi, kami tidak punya uang untuk membeli susu bubuk.” katanya mengenang. Oleh karena itu ia merasa bersyukur dan sangat ingin membalas budi. "Saya mau menjadi pegawai negeri di China. Saya tahu, dengan pengetahuan yang saya dapat, saya mungkin akan bekerja dengan orang yang sangat berbeda jalan pikirannya. Tapi saya berharap bisa melakukan perubahan dari dalam."
Menurut Saich, Carol adalah pengecualian. Kebanyakan orang China ingin bekerja di perusahaan internasional atau di Bank Dunia atau di PBB. "Bekerja di pemerintah tidak menarik. Pertama karena gajinya tidak tinggi, dan kedua belum tentu kita bisa meniti karir berdasarkan kemampuan," katanya. ©
