JAKARTA, KAMIS - Rencana sejumlah anggota Pansus RUU Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan berkunjung ke luar negeri, bukan dalam rangka studi banding, melainkan kepentingan legislasi. Kunjungan tersebut sah dan tak menyalahi aturan di DPR. Sejumlah anggota Pansus tersebut direncanakan akan berkunjung ke Aljazair dan Brazil. Demikian penegasan yang disampaikan Ketua DPR Agung Laksono kepada para wartawan, Kamis (27/3).
"Untuk RUU itu, kaitannya dalam rangka proses legislasi, tetap dibenarkan, kan bukan studi banding. Itu dalam rangka memperoleh masukan-masukan untuk memperkaya Pansus dalam penyelesaian RUU nya. Tentu jumlahnya dibatasi karena ini bukan tugas pribadi, tapi kedewanan. Jadi harus membatasi, untuk jumlahnya bisa ditanya ke kesekjenan," ujar Agung.
Mengenai adanya kabar keikutsertaan istri Anggota Pansus yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarif Hassan dalam rombongan tersebut, Agung mengaku telah mengingatkan anggotanya untuk menghindari hal tersebut. Sementara itu, dalam kesempatan terpisah Syarif Hassan mengatakan mulai hari ini, Fraksi Partai Demokrat memutuskan melarang seluruh anggotanya ke luar negeri, yang dibiayai dari anggaran pemerintah.
"Langkah ke luar negeri itu sah-sah saja, karena kunjungan yang sifatnya untuk legislasi itu dibolehkan. FPD sendiri punya keputusan mulai hari ini semua anggota kami dilarang mengikuti kunjungan keluar negeri yang pendanaannya dengan menggunakan uang pemerintah sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Selain Demokrat, Golkar juga melakukan hal itu. Dan semua anggota Demokrat yang sudah terdaftar kami minta untuk dibatalkan, tidak jadi ikut," papar dia dalam konferensi pers di Gedung DPR, Kamis (27/3).
Syarif mengatakan, kalau menurut obyek efektifitas seharusnya tidak perlu kunjungan ke luar negeri. Namun, telah dilakukan komunikasi dengan pimpinan DPR di Aljazair dan Brasil. Selain itu, menurutnya segala sesuatu yang berhubungan dengan lembaga negara tidak bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, harus berdiskusi langsung. Alasan pemilihan kedua negara tersebut, apa istimewanya, Syarif mengaku tak tahu. "Saya hanya anggota Pansus, saya tidak tahu apa alasan dua negara itu yang dipilih," kata Syarif. (ING)
