Jumat, 28 November 2014

News / Perempuan

Mereka Berlatih Mempertahankan Diri...

Rabu, 26 Maret 2008 | 08:30 WIB

Baru-baru ini, 22-23 Maret 2008, di Istana BEC (Bandung Electronic Center) diselenggarakan Free Workshop Pelatihan Beladiri Praktis Khusus Perempuan. Hampir 300 perempuan menjadi peserta pelatihan tersebut.  

Adalah Women Self Defense of Kushin Ryu (WSDK) yang mengadakan kegiatan tersebut, WSDK merupakan bagian dari pertanggung jawaban sosial Kushin Ryu M Karate-do Indonesia (KKI) Dojo Kopo, yang lahir dalam menyikapi makin tingginya tindakan kekerasan terhadap perempuan. Digagas oleh Sensei H Sofyan Hambally, penyandang DAN VI Karatedo Internasional, WSDK memberi pelatihan kepada perempuan dari beragam latar belakang di Kota Bandung, Jawa Barat. Sejak dibentuk pada  2007, WSDK telah memberi teknik-teknik beladiri praktis kepada lebih dari 200 perempuan.

Program pelatihan beladiri praktis WSDK dikemas sedemikian rupa sehingga memungkinkan perempuan dari berbagai usia bisa menyerapnya dengan mudah. Yang diberikan adalah teknik-teknik yang sangat praktis namun mematikan. Teknik-teknik itu dirancang khusus untuk perempuan dalam upaya memberikan daya kejut kepada para pelaku, sehingga mampu menghindari kondisi yang lebih buruk.

Pada 2007, 14 Januari hingga 4 Februari, tiap Minggu pagi, Sofyan dan sejumlah anak didiknya di dojonya, memberi latihan-latihan beladiri praktis dan efektif secara gratis bagi perempuan di lingkungan dojo mereka di Jl Kopo Cetarip Timur II/4, Bandung. Program kedua mereka gelar pada 4 Maret-25 Maret 2007, juga tiap Minggu pagi. 

Metode pelatihan semacam WSDK sebetulnya telah bermunculan di beberapa tempat lain di Indonesia. Kompas.com mencatat, ada yang menamakan pelatihan itu women's self defense (WSD). Ada pula yang menyebutnya self defense for women (SDFW). Menurut para penyelenggara latihan beladiri tersebut, gerakan-gerakan di dalamnya berpijak pada kewaspadaan dan ketenangan diri serta berupa pukulan, tendangan, dan manipulasi sendi. Menurut mereka pula, gerakan-gerakan itu bukanlah merupakan aliran baru beladiri dan tak mengatasnamakan satupun aliran beladiri.

Latihan-latihannya kini telah diselenggarakan oleh sejumlah pihak, bukan hanya di Jakarta, melainkan juga di Bandung. Contohnya, di Executive Club Hotel Sultan, Jakarta, sejak pertengahan 2004 ada WSD (Women's Self Defense), yang dilatih oleh Teuku Rizal Djohan, dengan latar jujitsu, kickboxing, dan aikido, dan Galih Ilham yang berlatar jujitsu, capoeira, pencak silat, karate, dan kickboxing.

Awalnya, dengan referensi luar dan dalam negeri, Rizal mengonsep WSD bersama Deddy Wigraha dan Rigga. Pada 2002 mereka memberi latihan bagi para perempuan warga negara asing (WNA) dari American Council for International Labor, Jakarta. Lalu, hal yang sama juga mereka lakukan untuk para perempuan WNA dari Sekretariat ASEAN, Jakarta. "Kebanyakan dari mereka merupakan wanita aktif, traveler, dan sering berada di lingkungan dengan lebih banyak laki-laki daripada perempuan di dalamnya," kata Rizal.

Dari sana, kemudian, 2002 hingga awal 2004, Rizal cs menyentuh para perempuan dari kalangan umum dengan membuka kelas di Grande Body Life, Pasaraya Blok M. Sesudahnya, mulai pertengahan 2004 hingga kini, Rizal dan Galih melatih di Executive Club Hotel Sultan.

Contoh lainnya, program SDFW versi Fahmi Syarif diadakan tiap Minggu pagi di rumah sang sensei karate, di Jalan Taman Tanah Abang III no.19, Jakarta Pusat, setelah berpindah-pindah dari tempat awal, Pintu VI Stadion Utama Senayan, dan beberapa tempat lainnya. Satu program, lima kali pertemuan.

Diterangkan oleh Fahmi, para peserta pertama program tersebut, yang dimulai pada November 2006, adalah para perempuan aktivis. Maklum, penggagasnya adalah Titiana Dinda, mantan asisten kordinator pada Komnas Perempuan. Dinda menggagas SDFW atas usul Sensei Dedi Mansur, yang ketika itu berada di AS dan meminta Fahmi untuk membantu Dinda. "Di angkatan kedua sekarang, wanita karier--dari sekretaris sampai guru--dan mahasiswa," terang Fahmi.   


Editor :