Sabtu, 1 November 2014

News /

Remy Silado Membocorkan Naskah Drama Musikalnya

Jumat, 21 Maret 2008 | 13:27 WIB

SETELAH meraih gelar juara dunia dengan menggondol 15 medali emas di Jerman pada 19th World Festival of Children's Theatre di Lingen, Jerman pada tahun 2006, dan tahun sebelumnya meraih gekar grup terbaik pada Festival Teater Anak-anak Tingkat Asia-Pasifik di Toyama, Jepang, Teater Tanah Air (TTA) kembali segera unjuk gigi di Jakarta. Pada 29-30 Mret 2008 mendatang  TTA akan mementaskan drama-musikal yang ditujukan bagi remaja alias ABG dengan mengangkat lakon Bawang Merah Bawang Putih Bawang Bombay karya Remy Silado. Drama musikal ini akan diwarnai secara kental lagu-lagu The Beatles yang telah mengalami penyelarasan, di bawah arahan sutradara sekaligus pendiri TTA, Jose Rizal Manua dan melibatkan dua artis internasional dalam penggarapannya. Beberapa waktu yang lalu Jose Rizal telah memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan sekitar pementasan yang diajukan humas pementasan lakon ini, Rama Tharani, melalui wawancara yang dilakukan pada 15 Februari. Berikut penjelasan sang penulis naskah, Remy Sialdo, juga kepada Rama Thaharani seputar lakon tersebut.


Bagaimana awal mulanya sampai membuat naskah untuk pertunjukan ini?
Setelah pementasan saya tahun 2005 di GKJ, di situ Jose Rizal jadi Raja. Setiap kali habis pementasan saya selalu membuka diskusi, tanya jawab dengan penonton. Ada orang bertanya, setelah ini cerita apa lagi yang punya latar kesenian rakyat yang mau digarap? Saya, terucapkan secara bergurau saja sebetulnya, “Bawang Merah Bawang Putih Bawang Bombay lah.” Orang-orang tertawa, 'Kok bawang bombay…' Lalu Jose bertanya, 'Kapan selesainya? Biar kita garap'. Padahal saya bergurau. Tapi ya sudah, karena ditantang harus menggarap itu; dan Jose bilang, 'Cepatlah, buat!' Nah jadilah saya buat. Tapi pertama kali untuk Tarakanita. (Sebab) ketika saya sedang bergagas-gagas untuk menulis, ndilalah Tarakanita minta. Ya sudah, di-tryout di situ dulu. Tahun lalu, saya sendiri yang pegang, saya menggarap semuanya. Semua anak-anak itu, kecuali penata tarinya, dari IKJ.

Di luar keceplosan itu tadi, apakah ada alasan lain?
Saya memang mau menggambarkan, selama ini kan (karakter yang) jahat itu hanya (ada) di satu tokoh, Bawang Merah. Saya mau buat gambaran lain lagi, bahwa di belakang (si) jahat itu ada lagi tukang hasut. Kira-kira menggambarkan secara plastis keadaan sekarang, bahwa yang terhukum menjadi jahat itu karena kebetulan dilihat dia melakukan kejahatan. Tapi yang tidak dilihat, siapa yang menghasut sampai terjadi kejahatan. Di sini yang saya gambarkan Si Bawang Bombay. Dia lah sebetulnya penghasutnya, yang menyebabkan orang jadi jahat.

Artinya mau menyodorkan bahwa selama ini orang melihat dari luar saja, bahwa di permukaan yang jahat itu… pelakunya. Padahal di belakang pelaku itu ada lagi sebetulnya yang sembunyi. Si Bawang Bombay itulah tukang hasutnya., sehingga ekspektansi Mas Remy ke audiens adalah mereka bisa melihat itu?
Saya kira penonton bisa lihat di situ. Sudah jelas, sangat verbal, dan sangat visual sekaligus. Ditampilkan, sosoknya nampak kasat mata dan kelakuannya memang sangat jahat. Mencari keuntungan dari kejahatannya itu. Sebuah naskah yang gampang diterima, kira-kira yang memang selalu harus ada tokoh yang memerankan kejahatan di situ. Itu baru cerita bisa menarik. Kalau tidak ada tokoh jahat, cerita sangat datar. Nah Bawang Bombay ini memang nakal sekali. Dia nakal, jahat, tapi untuk kepentingan dia pribadi semuanya.

Apakah memang disengaja untuk sangat literal?
Ya, supaya nampak saja. Selama ini kan tokoh jahat itu ada di belakang. Di sini, ditampilkan, visual. Jadi dia lah yang sebetulnya dihadirkan di sini sebagai biang kerok dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Bawang Merah. Banyak kan yang seperti begitu sekarang kita lihat di dalam permukaan tatanan politik kita? Begitu.

Nantinya kan naskah ini dimainkan oleh anak-anak…
Ya memang segmentasinya di sana.

Segmentasi untuk pemain atau penonton?
Dua-duanya. Jadi yang dimainkan oleh anak-anak, tapi juga yang bisa ditonton oleh anak-anak. Jadi bukan semata-mata tontonan untuk anak-anak, tapi yang bisa ditonton oleh anak-anak. Tapi sebetulnya moralitas yang mau diusung di sana itu kan juga untuk orang tua. Sebab kejahatan yang dilakukan itu justru oleh orang tua. Anak-anak kan bukan melakukan kejahatan, tapi kenakalan.

Kalau yang menonton maupun yang memainkan bukan anak-anak, apakah naskahnya akan berbeda?
Tidak, sama saja. Artinya kalau sekarang dimainkan oleh anak-anak, anak-anak itu kan dipersiapkan untuk menjadi dewasa. Segmentasi tontonan untuk anak-anak, yang bisa ditonton oleh anak-anak, dan yang dianggap menjadi tontonan anak-anak, otomatis pasti ditonton oleh orang tua yang mengantar anaknya ke gedung kesenian. Di situ keuntungannya membuat cerita anak-anak. Seperti misalnya Oliver Twist; pelakunya anak-anak, tapi yang menonton orang dewasa.

Dan moral of the story-nya juga untuk orang dewasa?
Iya, itu makanya kan. Ada keuntungan ke sana; kalau kita buat cerita untuk anak-anak, dimainkan oleh anak-anak, otomatis orang tua nonton.

Ketika Mas Remy tahu bahwa yang main adalah Teater Tanah Air (TTA), apakah Mas Remy punya ekspektansi tertentu?
Saya percaya bahwa siapapun yang memainkan ini, apalagi Jose, dia sudah punya kemampuan dan punya kebebasan utnuk menafsir ulang. Waktu saya pertama kali mementaskan itu, Jose sempat datang satu kali ke latihan. Dan pasti dia berbeda dengan yang saya garap. Pasti. Sebab dia punya kreativitas dan visi yang berbeda dengan saya. Dan itu justru sesuatu yang memperkaya dunia imajinasi kesenian kita. Jose memiliki kemampuan di sana. Di mana-mana yang namanya interpretasi itu bukan barang eksakta. Interpretasi itu 1+1=19.

Ya, Mas Jose sempat cerita juga bahwa kemungkinan ada adegan yang urutannya ditukar.
Ya, memang dia sudah bicara sejak awal misalnya Adegan Keraton itu ditaruh di depan. Saya bilang silakan, tidak apa-apa. Kita juga memainkan karya yang standar seperti Shakespeare bisa mengubah-ubah. Dan itu memang merupakan bagian dari hak lisensia poetika seorang sutradara.

Saya juga sempat mengobrol dengan direktur artistik dan penata kostum. Mereka punya sudut pandang yang berbeda tentang bagaimana memandang naskah ini. Menurut Inez, yang pertama kali ia tangkap adalah pertentangan; baik-jahat, modern-tradisional. Sementara Amsalan melihat bahwa di luar si baik dan si jahat, ada geng; teman-teman Bawang Bombay, burung-burung. Dan burung-burung itu dia gambarkan sebagai mafia, bukan burung dengan bulu dan sayap putih…

Hahaha. Ya bagus kan, jadi ada kebebasan di situ. Ketika saya menulis pun barangkali saya sangat sempit. Ketika saya pentaskan itu, maka saya berubah juga dari hanya sekadar naskah. Itu selalu harus terjadi. Jadi orang lain juga berubah lagi. Justru di situ yang saya bilang tadi, kayanya lisensia poetika seorang sutradara dalam menafsir, dan staf-staf artistiknya.

Berarti dia [Amsalan] cukup cerdas. Saya memang tidak menafsir harafiah seperti itu. Di situ saya mau menafsir tentang bagaimana kebebasan; burung bisa terbang ke mana-mana, burung bisa juga komentar, dalam cerita ini. Lalu burung bisa senasib sepenanggungan dengan tokoh yang disia-siakan. Kalau kita lihat secara sosial, kita selalu mengira bahwa burung hanya bisa berkicau. Di sini saya mencoba mengatakan bahwa di dalam kicauan burung itu ada penderitaan, dan ketika ada tokoh Bawang Putih yang menderita, dia merasa senasib sepenanggungan, mendukung tokoh itu.

Di awal ketika menggarap ini, Inez juga sempat selintas merasa khawatir tentang adegan anak yang membunuh ibu orang lain, dan anak yang akan menghasut – yang sepertinya tidak sesuai dengan karakter anak-anak. Bagaimana pendapat Mas Remy?
Barangkali itu bisa dilihat dalam cerminan di belakang cermin yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang berpenampilan lugu, lalu dia masuk golongan tertentu, dia menjadi jahat. Kita bisa melihat cerminan itu dalam kehidupan sekarang ini, setelah reformasi bergulir dengan tidak sepenuh hati.

Lalu tentang pertentangan baik-jahat, bukankah konflik bisa bermacam-macam?
Konflik paling hakiki di dalam teater modern adalah konflik psikologis, bukan konflik fisikal. Teater rakyat, teater tradisional Indonesia menyelesaikan konflik secara fisikal. Sementara naskah teater modern – teater yang berorientasi pada sastra – menyelesaikan konflik psikologis.

Bukankah konflik psikologis tidak hanya tentang baik-jahat?
Oh, selalu, harus baik-jahat. Sebab perwajahan manusia di situ cuma dua, berbuat baik atau berbuat jahat. Makanya timbul paling klasik di dalam teater itu adalah topeng tragedi dan topeng komedi. Topeng sedih dan topeng gembira. Hanya dua perwajahan dalam keinsanian manusia, yaitu jahat dan baik, yang diekspresikan secara fisikal dengan tragedi dan komedi. Makanya ketika orang selalu mengira jahat itu hanya pelaku yang nampak, si Bawang Merah, kita lupa bahwa di belakang kejahatan itu ada iblis, yang tidak nampak. Nah saya mau menggambarkan Bawang Bombay kira-kira sebagai iblis yang nampak.

Kembali ke naskah, kenapa menggunakan musik The Beatles?
Saya setuju dengan pandangan tahun ’80 oleh Ned Rorem, komponis dari Amerika, ketika dia menulis bahwa ada 4 B di dalam sejarah musik dunia. Pertama, Bach; kedua, Beethoven; ketiga, Brahms, dan keempat The Beatles. Jadi musik The Beatles itu sudah mencapai tingkat klasik dalam pengertian tingkat yang bermutu sangat tinggi. Sebab dia menemukan harmoni di dalam akord. Selain itu, musik the Beatles sangat komunikatif untuk generasi muda kapan pun.

Dalam memilih lagu, saya mencocok-cocokkan saja. Misalnya lagu Hey Judejude-nya itu ternyata Judy, kekasihnya. Jadi disesuaikan dengan irama. Tapi yang paling penting, hampir semua irama musik the Beatles itu dasarnya rock. Biarpun slow, dia rock. Musik rock itu adalah musik yang sangat komunikatif bagi semua generasi; generasi tua dulu juga generasi muda, jadi dia juga bagian dari budaya rock tadi.

Apakah disesuaikan juga dengan sejarah lagu itu sendiri?
Tidak, sama sekali tidak. Sebab saya cuma mengambil semangat melodi dan ritme lagu itu. Melodi dan ritmenya itu saya pakai, kemudian liriknya saya sesuaikan dengan cerita.

Jadi kalau misalnya ada nama besar lain yang punya kualitas sebaik the Beatles, band tersebut punya kemungkinan untuk dipakai juga?
Kebetulan tidak ada yang lebih terkenal dari the Beatles.

Kalau menilai naskah ini dari luar, apa yang dianggap paling unik dari naskah tersebut?
Saya kira yang tidak pernah dipikirkan orang adalah di balik kejahatan itu ada lagi kejahatan yang tersembunyi. Itu yang mau saya gambarkan, sebab selama ini, di dalam peta pernaskahan yang kita punya, selalu itu tidak kelihatan. Kecuali orang menggambarkan memang ada peran iblis, misalnya dalam naskah-naskah drama Eropa Abad Pertengahan, itu iblisnya ditampakkan, ditampilkan. Dan itu pun masih berlanjut sampai sekarang. Misalnya omen, drakula; iblisnya dikeluarkan. Padahal dalam kehidupan manusia, setiap manusia punya ‘iblis’ di hati. Yang baik pun punya ‘iblis’ di hati.

Artinya kita bisa melihat ini sebagai manusia yang menghasut atau konflik internal?
Ya. Di dalam manusia pasti ada ‘iblis’, ada ‘Tuhan’-nya. Nah saya mau menggambarkan ini, ah dikeluarkan saja dalam bentuk manusia.

Berapa lama durasi menulis naskah ini?
Saya menulis naskah itu paling cepat, apalagi naskah drama. Naskah novel lebih lama dibanding drama. Saya seperti orang yang berkumur-kumur saja kalau buat naskah drama. Lebih cepat. Sebab ketika mau menulis naskah drama, saya sudah punya frame, bingkai, saya sudah mempunyai terminasi akhir dari cerita ini. Harus ada tokoh jahat, dan yang jahat harus dikalahkan oleh yang baik. Dan karena cerita ini berangkat dari cerita rakyat, maka tidak sulit. Saya menafsir ulang dari cerita rakyat. Naskah drama paling-paling 3 hari. Sebab ketika saya menulis, saya sudah membayangkan aktor-aktor yang akan memainkan. Dialog yang saya buat itu bukan semata-mata verbal, tetapi juga yang aktual, artinya yang bisa diperankan oleh aktor-aktor. Ketika saya menulis, saya sudah membayangkan blocking pemain-pemain.

Nantinya ini (blocking) bisa saja berubah. Di dalam naskah saya, sejauh saya ingin menuliskan stage direction, saya tulis. Tapi pada umumnya naskah saya tidak ada stage direction, saya tidak pernah pakai itu. Jadi artinya, kebebasan. Saya harus bebas juga ketika saya mementaskannya, saya berperan sebagai sutradara, saya harus membebaskan diri dari pikiran ketika saya menulis. Ketika saya menulis kan saya berada dalam satu ruang di atas meja. Kan sempit itu. Begitu saya menyutradarai, ruangnya jadi besar dan ada manusia-manusia. Jadi Jose boleh melakukan diktator di dalam penyutradaraan.

Apakah ada komunikasi antara Mas Remy dan Mas Jose dalam penggarapan kali ini?
Tidak, sebab dari awal saya sudah menyerahkan pada dia. Dan itu sama seperti dulu kalau saya mau memainkan naskah-naskah orang, orangnya sudah mati, bagaimana saya bisa komunikasi? Saya menggunakan hak lisensia poetika dan kemampuan imajinasi saya untuk menggarapnya. Saya berikan itu juga kepada Jose. Semua ini berarti tanggung jawab Jose, jadi visi Jose. Walaupun dia pernah menonton juga ini dari awal sampai akhir ketika saya menyutradarainya sendiri tahun lalu, dia pasti memiliki wilayah imajinasi dia sendiri.

Bagaimanakah Mas Remy membandingkan karya ini dengan naskah-naskah Mas Remy yang lain?
Barangkali ini mengambil cerita tradisional tetapi dengan representasi kehidupan sekarang. Dan lebih diperjelas. Jadi tidak perlu lagi diintepretasi, misalnya Hamlet mau dimainkan dengan setting New York. Tidak perlu begitu. Ini sekarang cerita Bawang Putih, tentang Bawang Putih, bisa dimainkan dengan setting Jakarta masa kini. Kalau yang lain-lain, kalau saya buat cerita sejarah, saya betul-betul ambil setting itu melalui sejarah. Misalnya naskah saya yang sekarang dibukukan, Siao Ling dan 9 Oktober 1742, setting-nya yang satu abad 15, yang satu lagi abad 18. Jadi betul-betul ada penelitian yang akurat sebagai pegangan historisnya. Kalau ini kan tidak; cerita rakyat yang sudah berlanjut sekian lama, bisa juga menjadi aktual sekarang. Jadi bukan reinterpretasi, tapi ini memang naskah yang dibuat sekarang, dan dimainkan juga oleh orang-orang sekarang, dan tidak ada pegangan historis samasekali pada satu masa tertentu.****


Editor :