Laporan Wartawan Kompas Suhartono
JAKARTA, SELASA - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyatakan, rencana pemerintah untuk kemungkinan menaikkan harga bahan bakar minyak masih harus menunggu perkembangan harga minyak mentah dunia pada hari-hari mendatang.
"Kita masih menunggu perkembangan berikutnya. Karena setiap kenaikan harga minyak mentah dunia, itu selalu ada dua sisi, yaitu penerimaan negara dan juga naiknya subsidi. Kalau harga terlalu tinggi, itu juga akan menyebabkan inflasi yang juga terlalu tinggi," ujar Wapres Kalla, menjawab pers, saat ditanya di halaman rumah dinasnya di Jalan Diponegoro, Jakarta, Selasa (18/3) petang.
Menurut Wapres Kalla, upaya yang dilakukan pemerintah sekarang ini untuk meredam kenaikan harga minyak mentah dunia, adalah mengurangi konsumsi dan meningkatkan volume prokduksi minyak. Namun, pemerintah tidak bisa menahan laju kenaikan harga minyak mentah dunia, mengingat itu faktor eksternal di antaranya akibat bermacam-macam faktor seperti konflik, politik, spekulasi.
Ditanya mengenai adanya tiga opsi asumsi harga minyak mentah di perubahan APBN 2008 yang saat ini masih dibahas bersama pemerintah dan Panitia Anggaran DPR, Wapres Kalla membenarkan. Tiga opsi yang akan diajukan pemerintah adalah harga minyak sebesar 85 dollar AS per barrel, harga minyak sebesar 90 dollar AS per barrel dan 105 dollar AS per barrel.
"Angka-angka itu hanya asumsi. Akan tetapi, sekali lagi, tidak ada yang bisa menjadikan pegangan karena penyebab kenaikan harga minyak mentah dunia adalah faktor luar negeri," lanjut Wapres Kalla. Sejauh ini, harga minyak mentah dunia tercatat masih di atas 105 dollar AS per barrel.
