Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 19:58 WIB
Perang Promo, Voice dan SMS Bisa Lebih Murah
| Kamis, 13 Maret 2008 | 10:19 WIB
|
Share:

Junko Kimura/Getty Images
Ponsel yang dilengkapi chip RFID dapat dimanfaatkan sebagai mobile walet untuk melakukan pembayaran di berbagai merchant. Layanan ini sudah dimulai NTT Do CO MO jepang sejak dua tahun lalu.

TERKAIT:

GENDERANG 'perang promo' mulai ditabuh para operator seluler, diskon tarif voice dan SMS mulai berdentum di berbagai selebaran iklan, baliho, koran, radio, tv sampai internet. Gratis voice dan SMS biar lebih murah pun mulai dirasakan manfaatnya oleh semua pelanggan seluler. Adu murah dalam promo seluler dilakukan XL, Indosat, Telkomsel setelah operator dituding KPPU, pengamat sampai kalangan pejabat karena tarifnya paling mahal di dunia. Lho, apa benar begitu, berdasarkan fakta data International Telecommunication Union (ITU) tahun 2005 saja, tarif voice diIndonesia dari 213 negara di jagat menduduki peringkat 170 denga tarif per menit Rp 1.054 (peak) dan Rp 733 (off peak) dan peringkat ke-1 adalah Sierra Leoni Rp 17.812. Sedangkan tarif SMS di Indonesia di peringkat 153 sebesar Rp 321/SMS, tertinggi di Mexico Rp 6.057/SMS (lihat tabel).    

Memang tren tarif voice dan SMS di dunia cenderung terus menurun, pendapatan per menit di tahun 2002 sekitar 30 sen dollar AS, tahun 2005 sudah 10 sen dollar dan tahun 2008 diperkirakan di bawah 4 sen dollar. Tarif yag sama diberlakukan di Singapura, Taiwan bahkan di India dan China lebih murah lagi. Tapi di India dan China tak ada 3G sehingga tarifnya dibikin murah, orang tak bisa kirim data atau berinternet ria dengan baik. Di Indonesia, semua bisa dilakukan apa saja, dari 3G, mobile wallet, internet mobile, data, mobile TV sampai video surveillance dengan gampang dengan tarif terjangkau. Tarif itupun di segmen-segmen tertentu malah dibikin murah bahkan sangat murah.

Ada yang menuding tarif SMS adalah tarif kartel karena kesepakatan. Lho pemerintah tidak menetapkan ada aturan tarif SMS, ya operator membuat patokan tarif biar nggak merugi. Tarif SMS tiap operator pun berbeda-beda, bandingkan dengan tarif SMS di beberapa operator seluler di Filipina harus sama sebesar 1 Peso (Rp 420/SMS), inipun oleh pemerintah Aroyo tidak disebut kartel. Lalu batasan kartel seperti apa, tidak ada tarif SMS yang dilanggar operator, karena memang peraturannya tidak ada. Apalagi sekarang operator sudah banting harga karena tambah diskon ini dan itu, membuat pertarungan semakin seru. Bukan sekedar memberikan layanan yang murah dan berkualitas, termasuk upaya menggaet pelanggan baru dan menjaga jumlah pelanggan yang ada tidak pindah ke operator lain.

Perang tarif promosi layanan suara dan SMS yang memanas sejak awal 2008 ini mungkin akan berakhir jika pemerintah sudah mengeluarkan dan memberlakukan struktur tarif baru seluler. Lantas bagaimana dengan perang tarif promosi SMS yang juga mulai menggeliat. Maunya pemerintah tarif akan turun sampai 40 persen, dari  tolak ukur tarif yang mana mau turun, perang promo saja sudah menurunkan tarif sampai 300 persen.

Banyak operator menawarkan telepon dan SMS gratis hingga 90 hari. Mereka umumnya operator baru yang tengah membangun basis pelanggan. Telepon atau SMS gratis--sekalipun hanya berlaku untuk sesama pelanggan--, menjadi pemikat bagi calon pelanggan agar mau bergabung dengan operator baru. Namun bertahan sampai kapan?

Operator lama pun tak mau kalah dengan pemain baru, operator eksisting juga pasang kuda-kuda dengan menawarkan SMS murah. TelkomFlexi, misalnya, menawarkan tarif promosi SMS Rp 49,- Tak mau kalah dengan TelkomFlexi, Exelcomindo Pratama menawarkan tarif promosi SMS Rp 45. Yang mengejutkan, Telkomsel menawarkan paket SMS murah untuk pelanggan KartuAs. Dengan Rp 10 ribu, pelanggan KartuAs akan mendapat paket 200 SMS. Dalam waktu dua pekan dan bisa ditambah lagi, nelpon dua menit gratis tiga menit berarti ada diskon voice 60 persen. Ini berarti KartuAs menawarkan SMS dengan harga promosi Rp 50,-  lebih dari sekadar promosi untuk sesama pelanggan, KartuAs juga menawarkan diskon 50 persen untuk SMS antaroperator.

Langkah KartuAs, diperkirakan akan diikuti operator lain. Pasalnya, dengan pelanggan sekitar 21 juta, promo ini bisa dimanfaatkan untuk SMS ke 50 juta pelanggan Telkomsel atau lebih dari 50 persen pelanggan seluler di Indonesia saat ini. Tren penurunan tarif SMS sedang bergulir. Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Farchy membenarkan adanya kecenderungan penurunan tarif SMS. Fenomena ini tercermin dari tarif Rp 0 sampai Rp 350.  "Kalau operator baru berani menurunkan, yang operator lama pasti akan berani menurunkan juga. Memang kalau dilihat dari kemasannya tidak terlalu kelihatan penurunannya, tapi secara keseluruhan sudah mulai murah,'' ujar Merza, pekan lalu di Jakarta.

Merza menjelaskan tarif SMS antara satu operator dengan operator lain berbeda-beda karena kebijakan masing-masing operator juga berbeda-beda, sehingga tidak bisa distandarisasikan. "Harga SMS diserahkan ke mekanisme pasar dan akan turun pada satu titik tertentu jika titik efisiensi tercapai," ujar. Akan turun sampai berapa persen, Merza tidak memberikan rincian.

Pemerintah sendiri, sebagaimana dilontarkan Menkominfo Muhamad Nuh tidak akan mengatur tarif SMS. Prinsip sender keep all (operator yang mengirim mendapatkan semua biaya), akan dipertahankan, baik untuk SMS antar sesama pelanggan maupun antar sesama operator. Ini berarti tarif SMS diserahkan sepenuhnya ke masing-masing operator.

Kok tidak jelas, mengapa pemerintah tak jadi mengatur tarif SMS. Padahal, ada sejumlah persiapan yang dilakukan pemerintah--juga Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)--, berkait dengan pengaturan tarif SMS tadi. Misalnya meminta bantuan Lembaga Riset Ovum, Australia menghitung biaya interkoneksi SMS. Hasil kajian lembaga riset ini menemukan angka Rp 76,- untuk biaya interkoneksi SMS.

Sekalipun pemerintah tak jadi mengatur tarif SMS, rupanya hasil kajian Ovum masih menjadi dasar dalam pedoman tarif SMS. BRTI, misalnya, menjadikan Ovum sebagai salah satu dasar perhitungan tarif SMS. Dalam hal ini, angka Rp 76,- dianggap sebagai dasar. Ditambah dengan biaya ritel cost 25 persen dan margin 10 persen, harga SMS versi BRTI sekitar Rp 110. Merza membenarkan bahwa angka Rp 76,- versi Ovum adalah angka untuk biaya interkoneksi SMS. Maksudnya biaya yang harus dibayarkan operator yang mengirim SMS ke operator lain adalah Rp 76,-. Namun karena prinsip sender keep all diterapkan, biaya interkonekasi tak perlu dibayarkan.

Penting diingat, biaya dasar SMS bukan Rp 76,-. Karena selain biaya interkoneksi tadi, masih ada biaya-biaya lain. Misalnya investasi, promosi, edukasi, overhead cost termasuk margin. Merza tidak secara spesifik menyebutkan berapa biaya SMS. Namun satu kajian yang pernah dilakukan oleh satu lembaga riset di Indonesia menyebutkan bahwa biaya SMS--termasuk retail cost dan margin--, mencapai Rp 245,-.

Kalangan operator menilai angka Rp 245 cukup wajar. Lebih murah dari standar ITU tahun 2005. Karena dalam banyak kasus operator harus menginvestasikan dana lebih banyak untuk meningkatkan kapasitas, sebagai antisipasi terjadinya lonjakan SMS pada waktu-waktu tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri atau Tahun Baru. Pada situasi tertentu tadi, lonjakan SMS bisa mencapai 200 persen hingga 400 persen. Operator, tentu saja, harus menyediakan kapasitas untuk menghandle lonjakan trafik tadi.

Sejauh ini, angka Rp 110 masih dalam batas wacana. Setidaknya angka ini masih dalam tahap hitung-hitungan kasar. Persoalan menjadi lain, tatkala ada yang menjadikan angka ini sebagai rujukan untuk menilai tarif SMS yang berlaku di Indonesia. Tudingan tarif SMS mahal muncul, tatkala dikaitkan dengan tarif Rp 250,- sampai Rp 350 yang diterapkan kalangan operator. Klaim bahwa tarif SMS di Indonesia mahal, ditolak kalangan operator. Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi meluruskan pandangan itu. Ia kemudian menunjuk hasil kajian tarif SMS yang dilakukan International Telecommunication Union (ITU). ''Pada tahun 2005, tarif rata-rata SMS di Indonesia Rp 321,- Angka ini berada pada posisi 34 terendah dari 187 negara,'' kata Hasnul, belum lama ini.

Pada tahun 2007, Hasnul mengungkapkan tarif rata-rata SMS di Indonesia diperkirakan berada dibawah Rp 200,- Tarif ini disebut Hasnul juga lebih murah dibandingkan negara tetangga lain, seperti Malaysia atau Filipina. Di Filipina tarif SMS sekitar 1 peso atau Rp 240,- sementara di Malaysia tarif SMS antara 10 sen atau sekitar Rp 250,-  Tarif yang lebih mahal harus dibayar pengguna SMS di Eropa atau Amerika Serikat, yang berkisar antara Rp 1500 hingga Rp 2600. Umumnya di operator yang memberlakukan tarif murah untuk voice, biasanya mengutip mahal untuk biaya SMS.

'Sengatan' KPPU

Tarif SMS menjadi perhatian publik, tatkala Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan penyelidikan mengenai dugaan praktik kartel dibalik tarif SMS. Dugaan awal, kalangan operator melakukan praktik kartel, karena tarif SMS antara satu operator dengan operator lain relatif sama, yakni Rp 250 untuk SMS ke sesama pelanggan dan Rp 350 untuk komunikasi antar operator.

Dalam pemeriksaan KPPU terungkap, ada kesepakatan antara operator existing dengan operator baru agar memberlakukan tarif Rp 250 dan Rp 350 sebagaimana diterapkan kalangan operator. Kesepakatan tadi yang kemudian memunculkan kesan telah terjadi praktik kartel. Benarkah terjadi praktik kartel dalam menentukan tarif SMS. Operator yang dihubungi memilih tidak berkomentar soal 'sengatan' KPU ini.

Namun, salah satu eksekutif seluler menyebut bahwa kesepakatan yang dibuat antar operator timbul karena tidak ada aturan mengenai tarif SMS. ''SMS sebelumnya fitur, saat ini SMS bagian tak terpisahkan dari layanan suara,'' ujar eksekutif tadi. Karena tak diatur tadi muncul inisiatif untuk merumuskan tarif SMS sebagai panduan bagi operator. Karenanya ia heran bahwa inisiatif tadi dituding sebagai kartel.

Selanjutnya besaran tarif Rp 250 dan Rp 350 juga bertolak dari satu kajian bisnis yang dilakukan lembaga independen nasional dan menemukan angka Rp 245,- Angka ini telah memperhitungkan berbagai aspek, termasuk network cost, capacity, retail cost termasuk margin.

Pada sisi lain, kesepakatan agar operator baru menerapkan tarif sesuai dengan kesepakatan yang ada, lebih didorong oleh upaya menjaga kualitas layanan. Dikhawatirkan, jika diberlakukan tarif murah antaroperator akan timbul dampak negatif. ''Bagaimana kalau operator penerima dibanjiri spam atau menerima SMS lebih besar dari kapasitas yang dimiliki. Ini akan timbul masalah, karena jika operator tidak mampu memenuhi quality grade 90 persen bakal kena tegur BRTI. Kan nggak fair, nggak mendapat apa-apa, kalau ada masalah terkena sanksi,'' ujar eksekutif seluler tersebut.

Meski demikian, kalangan operator menghimbau pemerintah agar tarif SMS juga diatur sebagaimana tarif voice. Dengan pengaturan ini diharapkan tidak lagi terjadi kontroversi mengenai tarif SMS, termasuk tuduhan terjadi praktik kartel. ''Kalau pemerintah mengatur operator akan menerima,'' paparnya.  (HEROE BASKORO/PERSDA NETWORK)

ITU - 2005 - Mobile Prices            
Sort By Voice Tariff           
-------------------------------------------------------------            
Voice Tariff Ranking By Country            
        Voice Tariff      Voice Tariff
        Peak              Off Peak
--------------------------------------------------------------
1    Sierra Leone     17,812  15,368
2    Kuwait        13,809  13,809
3    French Polynesia 9,761   9,761
4    Fiji             9,154   9,154
5    Switzerland     8,052      6,722
6    Seychelles     7,021      3,511
7    Cote d'Ivoire     6,879      3,440
8    Japan             6,738      6,738
9    Austria             6,662      3,527
10    France             6,466      6,466
170    Indonesia     1,054      733
195    Hong Kong, China     363      363

---------------------------------------------------------------------------
ITU SMS Tariff 2005 (blended "on net off net", "local and long disctance")        
SMS Tariff Ranking By Country        
---------------------------------------------------------------------------
        SMS Tariff
        Domestic
1    Mexico     6,057
2    Tajikistan     5,628
3    Solomon Islands     4,030
4    French Polynesia     3,944
5    Greece     3,880
6    Netherlands     2,704
7    Sierra Leone     2,619
8    Austria     2,587
9    Lebanon     2,533
10    Belgium     2,469
153    Indonesia     321
169    Mongolia     205
170    Sudan     193
171    Somalia     188
172    El Salvador     188
173    Iraq     188
174    Sri Lanka     188
175    Ukraine     188
176    Mauritius     188
177    Philippines     167
178    Pakistan     157
179    Maldives     146
180    Paraguay     141
181    China     113
182    Nepal     94
183    Zimbabwe     94
184    Armenia     41
185    Poland     30
186    Costa Rica     28
187    Honduras     24