Rabu, 30 Juli 2014

News /

Kerusakan Hutan Ancam Kelestarian Orangutan di Ketapang

Selasa, 4 Maret 2008 | 17:55 WIB

KETAPANG, SELASA - Kerusakan hutan akibat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pembalakan liar di Kabu paten Ketapang, ditengarai sudah sampai pada taraf mengancam kelestarian orangutan (Pongo pygmaeus wumbii) dan sejumlah satwa dilindungi lainnya. Selain diburu dan dibunuh karena dianggap sebagai hama bagi tanaman sawit, orangutan juga diperjualbelikan keluar Kabupaten Ketapang melalui lima kecamatan dengan harga berkisar Rp 300.000-Rp 500.000 tiap ekor.

Kerusakan lingkungan hutan akibat pembukaan lahan sawit dan illegal logging terjadi di Desa Sungai Putri dan Tanjungpura di Kecamatan Muara Pawan, Desa Pematang Gadung di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Manismata, serta Kecamatan Jelai Hulu. Saat orangutan terdesak dan terpaksa mencari makan di perkebunan sawit, orangutan itu ditangkap atau dibunuh karena dianggap hama. "Perlu ada win-win solution dengan membuat koridor migrasi orangutan ke hutan yang masih utuh saat dilakukan pembukaan lahan," kata Hudi Danu Wuryanto, Manajer Pengembangan Kapasitas dan Pendidikan Lingkungan pada Yayasan Palung, Selasa (4/3).

Investigasi Yayasan Palung sejak 2004 menemukan sedikitnya ada 180 satwa liar dilindungi yang dipelihara dan diperdagangkan masyarakat. Di antara satwa itu, sejumlah 62 ekor jenis orangutan dan 80 ekor jenis klempiau (Hylobetes agilis). Dari jumlah itu, yang berhasil diselamatkan dan direhabilitasi hanya 58 ekor satwa liar, terdiri atas 35 orangutan, 14 klempiau, dan sembilan satwa lain.

Perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi masih marak. Bahkan teridentifikasi ada lima wilayah yang menjadi pintu keluar satwa itu dari Kabupaten Ketapang, yaitu Kecamatan Kendawangan, Ketapang, Teluk Melano, Teluk Batang, dan Sukamara.  

"Orangutan dari Ketapang banyak diperdagangkan hingga Thailand dan Malaysia melalui nelayan asing, serta ke Pulau Jawa melalui pelabuhan di  Jakarta, Cirebon, dan Semarang," kata Hudi.

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) B Prabani Setiohindrianto mengungkapkan, pembalakan liar yang masih berlangsung secara sporadis di TNGP sudah cukup mengganggu habitat orangutan dan satwa liar lain. Hingga saat ini diperkirakan ada sekitar 2.500 orangutan yang hidup di TNGP.  


Editor :