JAKARTA,JUMAT - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akan menurunkan tarif ritel seluruh layanan rata-rata sekitar 20 persen, menyusul implementasi penurunan tarif interkoneksi berbasis biaya yang akan berlaku mulai 1 April 2008. "Tarif telepon akan turun rata-rata 20 persen, untuk semua jenis layanan seperti tarif seluler (Telkomsel), telepon tetap nirkabel (FWA/Flexi)," kata Direktur Enterprises and Wholesale Services Telkom, Arief Yahya, seperti dikutip Antara, di Jakarta, Jumat (29/2).
Pemerintah pada 4 Februari 2008, menetapkan tarif baru interkoneksi berbasis biaya, yang berimplikasi penurunan tarif seluler antara 20-40 persen, sedangkan tarif telepon tetap antara 5-20 persen. Penurunan tarif interkoneksi sekitar 20-40 persen merupakan salah satu komponen dalam menentukan tarif pungut atas layanan telekomunikasi kepada pelanggan.
Interkoneksi adalah keterhubungan antar jaringan telekomunikasi originasi maupun terminasi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi yang berbeda. Menurut Yahya, sesungguhnya tarif secara alamiah akan turun apalagi setelah pemerintah menetapkan interkoneksi. "Selain karena dorongan dari regulasi, penurunan tarif juga dipengaruhi kompetisi antar operator dan tuntutan pelanggan sehingga mengharuskan operator lebih kompetitif," katanya.
Ia menjelaskan, Telkom telah menyerahkan Daftar Penawaran Interkoneksi (DPI) daftar yang menjadi acuan antar operator dalam menentukan tarif interkoneksi. "DPI sudah diserahkan pada 27 Februari kepada regulator, untuk selanjutnya dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh pemerintah dalam menetapkan tarif atas (ceiling) dan tarif bawah untuk semua jenis layanan komunikasi," katanya.
Sementara itu, Dirut PT Telkomsel Kiskenda Suriahardja mengatakan, DPI tersebut merupakan bagian formal penawaran perusahaan kepada operator dan diketahui pemerintah sehingga lebih transparan. Meski begitu, Kiskenda mengklaim bahwa penurunan tarif sesungguhnya telah diimplementasikan, tercermin dari fitur-fitur layanan kartu prabayar seperti Simpati PeDe, Simpati Ekstra yang tarifnya lebih murah.
Kiskenda berpendapat, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan bahwa penurunan tarif akan menggerus pendapatan perusahaan. "Pada penurunan tarif tersebut ada elastitisnya yaitu akan menambah jumlah pelanggan. Dengan demikian tidak bisa disebutkan bahwa penurunan tarif akan menurunkan pendapatan perusahaan," katanya tanpa merinci berapa besar revenue perusahaan.
Ia juga enggan menyebutkan berapa besar pertumbuhan pelanggan akibat realiasisi penurunan tarif tersebut. Kiskenda hanya menyebutkan, bahwa pada 2008 Telkomsel menargetkan penambahan pelanggan sekitar sembilan juta nomor, dari akhir tahun 2007 sekitar 47,8 juta nomor, dan mencapai 50 juta nomor pada pertengahan Februari 2008.
Sebelumnya, Dirut PT Excelcomindo Pratama (XL) Hasnul Suhaimi mengatakan, sejak tahun 2004 perusahaannya juga telah menurunkan tarif layanan. Tarif rata-rata XL tahun 2008 diturunkan menjadi sekitar Rp 400 per menit, lebih rendah dibanding tahun 2007 yaitu Rp 540 per menit, tahun 2006 rata-rata Rp 880 per menit, tahun 2005 rata-rata Rp 1.160 per menit, dan tahun 2004 rata-rata Rp 1.560 per menit. Pada akhir 2007, jumlah pelanggan seluler XL tercatat 15,5 juta nomor, naik 62 persen dibanding 9,5 juta nomor pada akhir 2006.
