Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 05:51 WIB
Filipina Butuh Waktu Sepekan Identifikasi Dulmatin
| Kamis, 21 Februari 2008 | 15:56 WIB
|
Share:

Tim Investigasi Peledakan Bom Bali
Searah jarun jam, dari kiri atas Umar alias Patek (35), Muhamad Ali Imron alias Alik (30), Dulmatin alias Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Supriyanto (32), Umar alias Wayan (35), Fatih alias Fat alias Kudama alias Abu Umar alias Abdul Azis alias Heri alias Imam Samudra (35), dan Idris alias Jhoni Hendrawan alias Gembrot (35).

TERKAIT:

JAKARTA, KAMIS- Juru bicara Departemen Luar Negeri RI Kristiarto Legowo mengatakan, Filipina telah mengonfirmasi bahwa mereka butuh waktu satu pekan untuk memastikan jenasah seorang pria yang ditemukan di makam yang dangkal di Pulau Tawi-Tawi, Filipina Selatan itu sebagai Dulmatin atau bukan.

"Proses identifikasi masih berjalan," kata Kristiarto kepada wartawan di Gedung Deplu Ri Jakarta, Kamis (20/2), saat diminta konfirmasinya mengenai klaim militer Filipina tersebut. Menurut Kristiarto, hingga saat ini perwakilan RI di Manila belum memperoleh informasi lain yang lebih jelas.

Ia juga mengatakan bahwa bukan untuk pertama kalinya militer Filipina mengklaim telah berhasil menembak mati Dulmatin. Jika ternyata mayat itu benar Dumatin, maka pemerintah RI akan secara resmi menyampaikan hal tersebut kepada pihak keluarga serta memfasilitasi pihak keluarga.

Dua hari lalu, militer Filipina mengklaim mayat seorang pria yang ditemukan di sebuah lokasi kuburan dangkal di pulau Tawi-Tawi adalah ahli bom dari Indonesia Dulmatin.

Laksamana Muda Emilio Marayag, komandan pasukan Angkatan Laut di wilayah itu, sebagaimana dikutip AFP, mengatakan, tim-tim dari FBI (Biro Penyelidik Federal AS) dan laboratorium kejahatan polisi Filipina sudah tiba di kota Zamboanga, Filipina selatan untuk melakukan tes-tes DNA.

"Sampel-sampel dari mayat itu akan dibandingkan dengan sampel-sampel yang diambil dari anak-anaknya yang ditemukan di Filipina selatan Mei tahun lalu," kata Marayag.

Sebelumnya, pemerintah AS menawarkan hadiah 10 juta dolar kepada siapa yang dapat menangkap hidup atau mati Dulmatin, yang bersembunyi di Filipina selatan dengan para gerilyawan lokal dalam lima tahun belakangan ini.

Dulmatin dilaporkan cedera dalam satu baku tembak dengan pasukan pemerintah di daerah selatan itu 31 Januari lalu. Pada mayat yang ditemukan itu terdapat luka tembak di kepala serta di kaki kanan dan dada, yang sama dengan luka-luka yang dialami Dulmatin dalam baku tembak sebelumnya.

Sumber :
Antara