Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 05:50 WIB
Memoles Kedelai Hitam
| Rabu, 20 Februari 2008 | 17:48 WIB
|
Share:

Koleksi alibaba.com
Kedelai hitam potensial dikembangkan untuk mencukupi kebutuhan kedelai dalam negeri. Perluasan lahan berikut peningkatan nilai tambah untuk kedelai hitam adalah kesempatan yang bermanfaat untuk makin dikembangkan.

TERKAIT:

TEMPE goreng adalah patokan sederhana untuk mencatat angka inflasi di Tanah Air. Ketika harga sepotong tempe di pedagang gorengan melambung hingga Rp500 sebuah, semoga kesadaran kita tergugah karena penganan penguasa segala tingkat konsumen itu memang barang mewah. Apalagi, betapa menyesakkan rasanya tatkala banyak orang merasakan raibnya tempe untuk beberapa waktu.

Ya, tempe, serta tahu, tentunya, yang memang dibuat dari kedelai (Glycine mox (L) Merrit nyatanya mampu menggerus duit pemerintah. Dua tahun lalu, sebanyak Rp2,6 triliun dana segar keluar dari kantung pemerintah hanya untuk membeli kedelai dari luar negeri.

Penting diingat, produksi kedelai lokal dalam kisaran 2003-2007 cuma cukup memenuhi 36-38 persen konsumsi kedelai dalam negeri. Rata-rata konsumsi kedelai nasional setiap tahun 1.803.000 ton. Sisanya, imporlah!

Kedelai di abad milenium ini memang tengah melorot pamornya. Di zaman yang mengagung-agungkan energi alternatif nabati, kedelai yang aslinya adalah tanaman liar di wilayah Cina Utara rontok tatkala berhadapan dengan jagung, salah satunya.

Produksi kedelai dunia pada tahun 2007/2008 diperkirakan hanya mencapai 220,34 juta ton. Angka ini turun 1 juta ton akibat pengalihan lahan pertanian kedelai untuk tanaman lain.

Di dalam negeri, dari 13 juta hektare lahan kedelai, sekarang, tinggal 6 ribu hektare yang masih ditanami kedelai. Selain peralihan fungsi lahan, jagung yang memang untuk sementara menempati posisi pertama sebagai bahan energi alternatif menjadi pilihan petani ketimbang kedelai.

Sudah begitu, pemerintah terkesan pelit memberi insentif mulai dari ketersediaan benih unggul, pemeliharaan dan peningkatan mutu hingga harga beli kedelai dari petani. Karuan saja, kedelai lokal tertimpa dua bencana hukum ekonomi yakni mutu rendah, harga pun murah.

Bermutu

Bukan untuk memisahkan berdasarkan warna kulit, menurut Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof.Dr.Ir. Mary Astuti M.S, pekan lalu, sesungguhnya, kedelai hitam berpotensi menjadi salah satu pemasok utama ketersediaan kedelai lokal. Mary berangkat dari kenyataan terkait daya serap industri kecap nasional terhadap kedelai hitam. "Sekarang kedelai hitam kan lebih banyak dijadikan bahan pembuat kecap," kata Mary.

Asal tahu saja, kedelai hitam memberi andil 80 persen dalam pembuatan kecap. Kandungan asam mino glutamate pada kedelai hitam yang sedikit lebih tinggi ketimbang saudaranya, kedelai kuning, membuat "Si Hitam" lebih gurih, rasanya.

Industri kecap, lalu, mulai skala mikro hingga makro, boleh dibilang mengalami pertumbuhan terus-menerus. Hal ini memang tak bisa lepas juga dengan kebiasaan makan orang Indonesia yang menempatkan kecap dalam nuansa kuliner keseharian.

Tantangannya, kemudian, produksi kedelai hitam lokal ternyata masih kalah jauh dengan kebutuhan industri kecap. Mary memberi hitung-hitungan dari lahan kedelai hitam di Bantul, Yogyakarta. Pada 2007, luas lahan ada sekitar 57 hektare. Sementara, rata- rata produktivitas kedelai hitam antara 0,7 sampai 2,7 ton per hektare. "Itu pun cuma bisa memasok sekitar 20 persen kebutuhan pabrik kecap seperti milik Unilever," begitu katanya.

Maka, setidaknya, menurut Mary, perluasan lahan sekaligus peningkatan nilai tambah kedelai hitam menjadi lebih bermutu menjadi pekerjaan rumah yang serentak diwujudkan. "Tentu, pengembangannya bersama juga dengan kedelai lokal lainnya," kata Mary.

Menilik program kemitraan UGM dan Unilever yang dirintis sejak 2001, tercatat perluasan lahan hingga 1800 hektare pada 2007. Selain Bantul, kawasan lahan tersebar di Sleman, Nganjuk, Trenggalek, Madiun, Blitar, dan Jombang, serta beberapa daerah di Jawa Tengah.

Lalu, para petani saat ini pun sudah memanfaatkan varietas kedelai hitam paling unggul yakni Mallika yang memiliki bulu coklat pada batang dan tempat polong. Mallika mampu tumbuh bercabang. Umur panen berkisar 90-an hari dengan umur bunga 33 hari. Lalu, umur polong masak 67 hari. Potensi hasilnya 2,4 ton hingga 2,9 ton per hektare. Mallika tahan terhadap kekeringan, genangan air, dan hama kedelai.

Yang juga menjadi perhatian adalah tatacara penanaman hingga pemanenan kedelai hitam. Mary menekankan kedelai hitam unggulan mampu memberi hasil maksimal kalau ditanam dengan jarak 10 cm kali 40 cm. "Penanaman dengan menugal. Satu lubang diisi dua benih," pesan Mary.

Mary pun mengingatkan, kedelai hitam dapat dipanen hanya saat kondisi daunnya sudah berwarna coklat. "Kalau belum coklat daunnya, ya, jangan dipanen," ujar Mary.

Akhirnya, kualifikasi bermutu sebagai syarat mutlak penyerapan oleh pabrik kecap tertera melalui ukuran biji berikut beratnya. Tiap seratus biji kedelai hitam beratnya mesti 17 gram. "Jangan lupa kadar airnya harus 11 persen. Itu baru bermutu," demikian Mary Astuti. (Josephus Primus)