Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 05:48 WIB
Puting Beliung Sumba Timur Tewaskan 2 Orang
| Minggu, 17 Februari 2008 | 15:06 WIB
|
Share:

WAINGAPU, MINGGU - Dua warga Kabupaten Sumba Timur ,  dilaporkan meninggal dunia ketika  hujan deras disertai angin puting beling melanda wilayah itu selama hampir dua pekan ini.
     
Dua warga yang tewas tersebut adalah satu warga Desa Kananggar, Kecamatan Paberiwai dan seorang lagi penduduk Desa Wahang, Kecamatan Pinupahar. Keduanya meninggal karena rumah mereka tertimpah pohon yang tumbang akibat diterpah angin, kata Wakil Bupati Sumba Timur, Gidion Bilijora, Minggu.
     
Milijora mengatakan setelah menerima laporan dari para camat yang tentang dampak dari hujan disertai angin kecang yang melanda wilayah itu selama dua pekan terakhir.
     
"Selama dua pekan terakhir, wilayah ini terus diguyur hujan lebat. Ada dua orang yang meninggal karena tertimpah pohon yang tumbang mengenai rumah mereka," kata Gidion.
     
Selain dua orang meninggal, ada sekitar 800 hektare tanaman penduduk yang rusak akibat diterjang angin dan luapan air yang menggenai areal tanaman penduduk pada delapan desa.
     
"Laporan belum kami terima semua. Ini laporan sementara kerusakan akibat hujan dan angin kencang selama dua pekan terakhir. Kerusakan tanaman penduduk kemungkinan masih bertambah karena belum ada laporan menyeluruh," katanya.
     
Wakil Bupati Sumba Timur menambahkan, telah memerintahkan posko untuk melakukan siaga selama 24 jam untuk memantau setiap perkembangan yang terjadi di wilayah itu. Dengan demikian, jika ada kejadian luar biasa di wilayah itu bisa dikoordinasikan sesegera mungkin,  untuk diambil tindakan secepatnya, kata Gidion Bilijora.
    
Dia menambahkan, hujan deras yang terjadi di wilayah itu juga telah menyebabkan jalur jalan di selatan Kabupaten Sumba Timur, yang mengubungkan Kecamatan Karera dan Pinupahar terputus sepanjang sekitar 100 meter akibat abrasi.
     
Kerusakan jalan juga terjadi di ruas jalan yang menghubungkan Nggogi-Malahar di Kecamatan Tabundung sepanjang lebih dari 70 meter, sehingga hubungan ke wilayah-wilayah ini putus total karena tidak ada jalur alternatif, katanya.
     
Dia mengatakan, pemerintah tidak bisa membuka jalur jalan alternatif karena jalur jalan yang menghubungkan wilayah-wilayah di selatan Sumba Timur itu diapit gunung dan laut. Satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi jalur jalan itu adalah membangun tanggul penahan gelombang sepanjang pesisir pantai, sehingga selain berfungsi sebagai penahan gelombang juga untuk memperluas badan jalan.
    
 Ini membutuhkan dana yang cukup besar karena jalur jalan yang berada di sepanjang garis pantai cukup jauh, yang mudah terkena abrasi maupun erosi pantai pada saat air laut naik, katanya. Wabup menambahkan, sedang melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi NTT untuk bersama-sama mengatasi masalah ini, agar arus transportasi dari dan ke wilayah-wilayah itu tidak terganggu.
     
 "Ini jalur jalan provinsi, tetapi kami tidak menyerahkan saja masalah ini kepada provinsi. Kami melakukan koordinasi untuk bagaimana bersama-sama menangani masalah ini," katanya. (ANT)

Sumber :
ANT