KUPANG, SENIN - Tim medis melarang Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalani pengobatan alternatif karena hanya akan mengganggu proses penyembuhan asma akut yang dideritanya.
"Ada banyak pihak yang menyarankan pengobatan alternatif tetapi kami tidak ijinkan karena Pak Gubernur harus selalu dalam keadaan steril. Pijat urut pun tidak diperbolehkan," kata dr Frans C. Homalessy, SpAn yang didampingi dr Ray Kosa, SpPD dan Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr Stef Bria Seran, kepada wartawan di Kupang, Senin (11/1).
Homalessy merupakan ahli anastesi dan Ray Kosa merupakan ahli penyakit dalam. Keduanya selalu mendampingi Gubernur NTT selama menjalani pengobatan di RSU DR Soetomo Surabaya hingga perawatan medis di Rumah Jabatan Gubernur NTT di Kupang.
Homalessy menjelaskan, kondisi kesehatan Gubernur NTT semakin membaik setelah 10 hari menjalani perawatan medis di Kupang, meskipun masih harus menggunakan alat bantu pernapasan (tracheastomis) yang dipasang di tenggorokannya.
Sistem pernapasannya baik atau bernapas spontan tetapi masih harus dibantu oksigen dengan kadar 30 persen (kebutuhan oksigen manusia normal sebesar 21 persen).
Susunan syarat pusat juga bekerja baik sehingga daya ingatnya pun baik dan dapat menjalankan tugas-tugas pemerintahan yang dikategori penting, seperti menandatangani surat dan dokumen.
"Dapat disimpulkan bahwa kondisi kesehatan Bapak Gubernur NTT saat ini semakin baik, bahkan mengalami perubahan yang cukup signifikan semenjak menjalani perawatan di Kupang," ujarnya.
Ia mengatakan, Gubernur NTT yang sempat terkena serangan sesak napas, gelisah dengan irama jantung tidak teratur dengan asistensi asma attack dan akut exaserbasi CPOD itu masih harus menggunakan "tracheastomis" disertai "ventilator portable" (katup pembuka) untuk proses penyembuhan.
"Tracheastomis" itu berfungsi memperlancar saluran pernapasan, sebagai jalur pengisapan lendir dari tenggorokan, namun rentan infeksi akibat udara yang tidak steril dan serangan asma saat udara dingin.
"Jika kondisi kesehatan Bapak Gubernur terus membaik maka ’tracheastomis’ itu dapat dicabut agar pernapasan kembali melalui hidung dan mulut dan hal itu yang diharapkan. Kami belum bisa memperkirakan waktu yang dicapai untuk kesembuhan total namun semakin mengarah ke kondisi yang lebih baik," ujar Homalessy dibenarkan Ray Kosa.
