Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 16:17 WIB
Penderita TB Malang Naik 29 Persen
| Minggu, 10 Februari 2008 | 19:56 WIB
|
Share:

MALANG, MINGGU - Penderita tuberculosis atau TB di Kota Malang dari tahun ke tahun masih cukup tinggi. Pada tahun 2007 jumlah kasus TB meningkat sekitar 29 persen dibanding tahun 2006.

Tahun 2006 jumlah penderita TB 1.096 orang. Sedangkan tahun 2007 naik menjadi 1.418 kasus.

"Kasus TB ini terkait erat dengan lingkungan, sosial ekonomi, dan hal-hal lain sehingga persoalannya cukup kompleks," tutur Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Malang, Nusindrati, Minggu (10/2) di Malang.

Menurut Nusindrati, salah satu sebab terus tingginya kasus TB adalah karena masyarakat kurang sadar. "Mereka biasanya menganggap batuk yang diderita hanya batuk biasa. Padahal ada batuk yang jika dibiarkan akan semakin parah dan bisa mengakibatkan kematian," katanya.

Batuk karena TBC menurut Nusindrati memiliki gejala berlangsung lebih dari dua minggu, panas tidak terlalu tinggi, penderita berkeringat di malam hari, nyeri dada dan sesak nafas, nafsu makan dan berat badan menurun, serta jika sudah parah dahak keluar bercampur darah.

Namun itu hanya gejala saja. Untuk kepastiannya penderita harus diperiksa. Bisa jadi batuk tersebut benar-benar TBC atau penyakit lain seperti bronchitis atau pneumonia, tutur Nusindrati.

Penyakit TBC ini disebabkan oleh bakteri Mico Bacterium TB yang menular lewat udara. Penyakit ini juga berkaitan dengan kondisi lingkungan yang lembab (sebab bakteri senang berada di tempat lembab) dan kondisi tubuh orang dengan kadar gizi kurang.

Pengobatan TBC dilakukan dengan paket obat dari Departemen Keseh atan RI yang dibagikan gratis lewat puskesmas-puskesmas. Paket obat TBC itu digunakan dalam jangka waktu enam bulan dengan konsumsi rutin setiap hari. Jika belum sampai sembuh pengobatan TBC sudah drop out (putus), maka pengobatan harus kembali diulang.

Semakin lama pasien putus dalam pengobatan, semakin lama pula kesembuhannya. Untuk itu diperlukan pemantau minum obat bagi setiap penderita TBC. Mereka bertugas mengontrol diminumnya obat oleh penderita, ujar Nusindrati. Selain pemantau pribadi, biasanya ada petugas dari puskesmas yang juga memantau perkembangan pasien. (Kompas)