DAVOS, MINGGU - Pengakuan dari pemimpin perusahaan telpon seluler terbesar di Cina membuat terhenyak anggota delegasi Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss pekan lalu. CEO dari China Mobile Communications Corporation, Wang Jianzhou, mengaku perusahaannya memiliki akses yang tidak terbatas tentang data pribadi lebih dari 300 juta pelanggannya.
Pengakuan tersebut dikhawatirkan oleh pakar telekomunikasi yang hadir di Forum Ekonomi Dunia dapat dijadikan target pengintaian dan disalahgunakan. "Kami tidak hanya tahu siapa anda, tetapi juga dimana kamu berada," tutur CEO dari China Mobile Communications Corporation yang jumlah pelanggan jaringannya setiap bulan bertambah hingga 6 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, China Mobile Communications merupakan kelompok bisnis ponsel terbesar di dunia untuk jumlah pelanggan.
"Kami dapat mengakses informasi dan melihat keberadaan pemakai ponsel, namun kami tidak pernah membeberkan informasi ini ...jika tidak diminta oleh aparat keamanan, jelas Wang Jianzhou. Pergerakan pemilik ponsel, menurut Wang Jianzhou, dapat dilacak karena sinyal ponsel yang terhubung dengan stasiun transmisi setempat. Teknologi ini juga memungkinkan perbincangan di ponsel dengan mudah disadap.
Pernyataan dari Wang ini disampaikan dalam konteks diskusi mengenai cara operator ponsel dapat meraih penghasilan tambahan dengan meningkatkan target iklan dan pelayanan lainnya.
Menurut Wang, pengintaian data lewat ponsel telah memunculkan pemikiran untuk menyebarkan pesan iklan berdasarkan lokasi pemilik ponsel. Wang mencontohkan bagaimana pemasang iklan cepat saji dapat menargetkan pemakai ponsel dengan jasa yang ditawarkan saat pemakai ponsel berada di lokasi rumah makan.
Wang menjelaskan perusahaannya dapat menghitung jumlah orang yang hadir dalam grand prix Formula I Shanghai tahun 2007 lalu dengan menghitung jumlah pelanggannya di wilayah tersebut. Nantinya, apabila sebagian besar masyarakat China telah mempunyai ponsel, data pelanggan dapat digunakan untuk menghitung jumlah penduduk di jalan raya seperti pada saat terjadi peningkatan kepadatan lalu lintas.
Pengintaian yang dilakukan oleh perusahaan ponsel terkemuka China itu mengundang perasaan khawatir dari kalangan Dewan Perwakilan Rakyat AS. Kongres sempat mempertanyakan tanggungjawab perusahaan Internet AS Yahoo yang membocorkan informasi seorang wartawan Cina ke aparat kepolisian Beijing tahun 2005.Data Shi Tao dibocorkan oleh Yahoo sehingga wartawan ini harus mendekam di penjara selama 10 tahun. Shi Tao diduga telah membocorkan rahasia negara setelah menerbitkan di Internet mengenai perintah dari pemerintah Cina untuk melarang organisasi media massa merayakan hari jadi pembantaian di Lapangan Tiananmen.
Jumlah pemakai ponsel di China mencapai 523,3 juta orang pada akhir September 2007, atau naik 13,5 persen jika dibandingkan pada periode yang sama akhir tahun 2006.
(AFP)
