Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 05:39 WIB
Kecelakaan Motor di Jakarta Diprediksi Meningkat 75 Persen
| Kamis, 24 Januari 2008 | 08:12 WIB
|
Share:

JAKARTA, KAMIS - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) memprediksikan kecelakaan sepeda motor di jalan raya akan meningkat 75 persen di tahun 2008.
 
"Belum ada hal yang signifikan untuk keselamatan," ucap Heru Sutomo, Koordinator Forum Keselamatan Transportasi MTI pada konferensi pers "Transportasi Outlook 2008" di Hotel Kartika Chandra, Rabu (23/1) malam

Dia mengatakan, pendapatan orang meningkat menyebabkan perjalanan di jalan juga meningkat atau semakin jauh. Dan, jumlah kecelakaan berasosiasi dengan panjangnya perjalanan, kecepatan tinggi. Saat ini, setiap tahun terjadi peningkatan jumlah kendaraan lima juta kendaraan. Populasi kendaraan tahun 2007 sebanyak 45 juta akan menjadi 50 juta di tahun 2008.

Bila pendapatan seseorang meningkat, kata Heru Sutomo, maka tingkat keselamatannya juga akan meningkat. Tapi, yang berlaku di Indonesia terjadi penyimpangan. Justru bila pendapatan meningkat, maka tingkat perjalanan meningkat. Jumlah perjalanan yang meningkat itu akan menyebabkan tingkat kecelakaan juga bertambah, bukan keselamatannya yang meningkat.

Menurut Heru, penyebab anomali dari perilaku umum tersebut disebabkan oleh masalah struktural, kultural, dan sosial. Misalnya, masalah SIM yang tak kunjung selesai, usia untuk mendapatkan SIM yang terlalu rendah 16 tahun dan penegakkan hukum yang tidak transparan, serta layanan angkutan umum yang belum memadai. Belum adanya pembenahan yang berarti mengakibatkan kecelakaan di jalan terus meninggi. "Untuk keselamatan, kita tidak bisa memberikan toleransi, zero tolerant," tuturnya.

Untuk meningkatkan keselamatan, banyak faktor yang harus dipenuhi, tapi yang utama adalah menciptakan koordinasi antardepartemen. Misalnya, ketika terjadi kecelakaan di jalan, Departemen Perhubungan bisa langsung berhubungan dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, perlu ditunjuk siapa yang bisa menjadi komando dalam meningkatkan keselamatan di jalan.

"Ada harapan bila membuat lembaga tinggi yang bisa mengomandoi untuk keselamatan, kita bisa berharap sesuatu," ucapnya lagi. Selain itu, kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan swasta akan mampu meningkatkan keselamatan di jalanan.

Peneliti dari Pusat Studi Transportasi UI, Tri Tjahjono mengatakan, tahun 2008 ini keselamatan transportasi kurang menguntungkan. Apalagi bila tidak ada political will dari pemerintah pusat, menurut Tri Tjahjono, maka jaminan keselamatan pengguna jalan atau hak konsumen masih diabaikan. "Seharusnya yang dipikirkan safety first untuk manajemen transportasi," kata Tri Tjahjono yang anggota MTI.

Sekretaris Jenderal MTI, Danang Parikesit mengatakan, pemerintah menggelontorkan dana dari APBD Rp 3,4 triliun untuk pembiayaan infrastruktur jalan. Tapi, untuk jalan di kabupaten dibutuhkan dana 17 kali lipat dari dana yang disediakan atau Rp 57,8 triliun. Sebelumnya, pemerintah menghitung jumlah perjalanan atau panjang kilometer perjalanan antarkabupaten 3,8 miliar per perjalanan per tahun. Tapi, estimasi sekarang ini mencapai antara 4-4,5 miliar per perjalanan per tahun. (Warta Kota/Tan)