Dalam percakapan dengan Corporate Vice President Nissan Motor Co Ltd Thierry Viadieu asal Perancis, ada topik yang menarik yang diungkapkan. Ia mengungkapkan rasa herannya, mengapa di Asia Tenggara orang seakan-akan tidak memedulikan keamanan (safety) diri sendiri, apalagi keamanan orang lain.
Ia mengungkapkan, setiap hari sangat mudah ditemui orang yang mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan helm. Demikian pula orang yang dibonceng. Padahal peraturan lalu lintas mewajibkan pengendara sepeda motor dan penumpangnya untuk mengenakan helm. Mereka mengabaikan penggunaan helm yang dapat melindungi diri mereka sendiri jia terjadi tabrakan atau kecelakaan. Ada banyak contoh yang memperlihatkan orang terhindar dari kematian saat terjadi
kecelakaan karena ia mengenakan helm. Helm dapat menghindarkan penggunanya mengalami cedera parah pada kepala yang dapat mengakibatkan kematian.
Demikian juga halnya dengan pengendara dan penumpang mobil. Orang mengenakan sabuk pengaman karena peraturan lalu lintas mewajibkannya, bukan karena dilatarbelakangi kesadaran bahwa mengenakan sabuk pengaman itu dapat menyelamatkan nyawa, atau meminimalkan risiko cedera pada saat terjadi tabrakan atau kecelakaan.
Orang lebih memilih duduk di kursi belakang, hanya karena enggan mengenakan sabuk pengaman. Itu sebabnya di pinggiran kota sangat mudah ditemui orang yang mengemudikan mobil tanpa memakai sabuk pengaman. Penumpangnya apalagi. Padahal, jika terjadi tabrakan atau kecelakaan, sabuk pengaman dapat menyelamatkan nyawa orang yang menggunakannya.
Hal yang sama juga terjadi pada saat seseorang membeli mobil. Perangkat keamanan, baik yang pasif maupun yang aktif, bukan prioritas utama. Padahal perusahaan-perusahaan pembuat mobil berlomba-lomba membuat mobil yang aman. Di negara-negara maju, orang sangat memerhatikan dan memedulikan keamanan dirinya. Saat mengendarai sepeda motor mereka selalu mengenakan helm, walaupun hanya untuk perjalanan jarak dekat. Itu dilakukan karena sadar bahwa mengenakan helm dapat menyelamatkan nyawa.
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh pengendara dan penumpang mobil. Mengenakan sabuk pengaman secara otomatis dilakukan sebelum menjalankan mobil. Dan, dalam membeli mobil, kelengkapan perangkat keamanan pasif dan aktif menjadi pertimbangan utama.
Takdir atau nasib
Keheranan Thierry Viadieu itu terjawab ketika ia ditugaskan di Thailand sebagai President of Siam Nissan Automobile Co Ltd dan Siam Motors & Nissan Co Ltd pada tahun 2006. "Orang-orang Asia Tenggara mempunyai cara tersendiri dalam melihat kematian orang yang terlibat dalam tabrakan atau kecelakaan. Mereka menganggap kematian orang yang terlibat dalam tabrakan dan kecelakaan itu sebagai takdir dan nasib," ujar Viadeu.
Menurut Viadeu, itu pandangan yang keliru. Tabrakan atau kecelakaan tidak harus berakhir dengan kematian. Dengan mengenakan helm pada motor dan sabuk pengamanan pada mobil, kematian dapat dihindari. Apalagi jika mobil yang terlibat dalam tabrakan atau kecelakaan adalah mobil yang aman, yang memiliki perangkat keamanan yang lengkap, baik pasif maupun aktif.
Yang menentukan suatu perjalanan dengan sepeda motor atau mobil berlangsung aman atau tidak, pertama-tama adalah pengendaranya. Antara lain tetap fokus dan berkonsentrasi saat berkendara dan mematuhi tanda dan rambu lalu lintas, termasuk tidak memacu kendaraan dengan kecepatan yang berlebihan. Jika memang tabrakan atau kecelakaan tidak dapat dihindari, helm dan mobil yang sarat perangkat keamanan yang akan melindungi pengendara dan penumpangnya. A safe car protect people, and a safe car is more safe with a safe driver (Sebuah mobil yang aman melindungi orang, dan sebuah mobil yang aman akan menjadi lebih aman dengan pengendara yang memerhatikan keamanan).
Kecelakaan mobil balap Formula Satu (F1) yang mengakibatkan kematian Ayrton Senna pada tahun 1994 merupakan kecelakaan terakhir di arena F1 yang mengakibatkan kematian pembalapnya. Dengan semakin amannya mobil balap F1 dibuat, menjadikan kematian akibat kecelakaan di arena balap F1, di mana mobil dipacu dengan kecepatan lebih dari 200 kilometer per jam, bisa dihindari.
Pengalaman, termasuk di arena balap F1, memperlihatkan bahwa pengendara yang baik tidak dapat melindungi dirinya pada saat terjadi tabrakan atau kecelakaan. Namun, mobil yang aman dapat melindungi pengendara dan penumpangnya pada saat terjadi tabrakan atau kecelakaan. Sebagai contoh, mobil balap F1 BMW Sauber yang dikendarai Robert Kubika asal Polandia menghantam tembok dengan kecepatan di atas 250 kilometer per jam, setelah menyenggol bagian belakang mobil Jarno Truly dari Toyota dalam Grand Prix Kanada 2007. Kubica selamat dalam kecelakaan itu, ia hanya mengalami gegar otak ringan dan kakinya terkilir.
Penting untuk diingat bahwa apabila seseorang mengalami tabrakan atau kecelakaan, bukan hanya dirinya sendiri yang menanggung akibatnya, melainkan juga keluarganya. Apalagi jika orang tersebut merupakan penopang utama ekonomi keluarga. Jika orang tersebut tewas, keluarganya akan kehilangan penopang kehidupan mereka. Dan, jika orang tersebut cedera parah sehingga mengalami cacat permanen, keluarganya yang kehilangan penopang kehidupan mereka.
Itu sebabnya penting buat seseorang untuk mengendarai mobil secara aman, termasuk mengendarai mobil secara berhati-hati dan mengenakan sabuk pengaman. Dan, apabila keuangan memang memungkinkan, belilah mobil yang aman, yang memiliki perangkat keamanan yang lengkap, baik pasif maupun aktif. Bagaimanapun mobil yang aman dapat melindungi pengendara dan penumpangnya pada saat terjadi tabrakan dan kecelakaan. (JL)
