Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 05:33 WIB
Awan Tumbuh Cepat
| Jumat, 11 Januari 2008 | 04:41 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS - Berdasarkan citra satelit pada Badan Meteorologi dan Geofisika, Kamis (10/1) antara pukul 14.00 sampai 15.00 terdapat pertumbuhan awan kumulonimbus yang sangat cepat di wilayah Jawa Barat sehingga sempat menurunkan hujan es beberapa saat.

Bentangan awan itu dalam satu jam diperkirakan tumbuh dari empat kilometer menjadi 10 kilometer dan bergerak ke arah tenggara.

"Hujan es sempat dirasakan sebagian warga masyarakat di Bandung, Jawa Barat. Ada warga yang menginformasikan hujan es berlangsung cukup lama sampai 15 menit," kata Kepala Subbidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kukuh Ribudianto, Kamis kemarin di Jakarta.

Menurut Kukuh, yang perlu diwaspadai dari begitu cepatnya pertumbuhan awan kumulonimbus (Cb) adalah adanya angin kencang di darat. Angin kencang semacam itu bisa menumbuhkan puting-beliung, meski hal ini sulit diprediksikan.

Akumulasi awan Cb itu dipicu oleh kondisi cuaca panas, kelembaban udara tinggi, dan terjadi penguapan tinggi secara lokal.

Akumulasi awan bisa mendatangkan hujan, namun curah hujan yang terjadi di wilayah Jawa Barat kemarin tergolong ringan sampai sedang dan tidak merata.

"Kondisi kering di tengah musim hujan saat ini dipengaruhi angin monsun yang lemah dan pengaruh dari Madden-Julian Oscilation (MJO) negatif yang memengaruhi kondisi kering," kata Kukuh.

Fenomena MJO merupakan fenomena osilasi atau pergerakan angin dari barat ke timur berperiode 40-50 hari. Fenomena ini menimbulkan dampak kondisi kering atau basah.

Relatif kering

Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMG Mezak Arnold Ratag, MJO saat ini menimbulkan kondisi relatif kering hingga Februari 2008. Diperkirakan kondisi MJO pada akhir Februari sampai awal Maret 2008 akan sama dengan kondisinya pada akhir Desember 2007 sampai awal Januari 2008 lalu.

MJO pada akhir Desember 2007 memengaruhi hujan sangat lebat dan menimbulkan banjir serta tanah longsor di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Perlu diwaspadai, dari hasil analisis kondisi MJO bisa mendatangkan hujan lebat lagi pada Februari 2008 akhir sampai awal Maret 2008 nanti," kata Ratag.

Fenomena MJO saat ini menunjukkan adanya tekanan rendah yang bergerak dari barat menuju perairan di sebelah timur Australia. Dampak yang ditimbulkan dari kondisi ini tidak cukup kuat untuk mendatangkan hujan di wilayah Indonesia. Tetapi, di wilayah Australia bagian utara dan timur sempat dilanda hujan lebat.

Berbeda ketika fenomena MJO melingkupi wilayah daratan Australia sampai perairan utara Australia atau di selatan Nusa Tenggara pada akhir Desember 2007. Saat itu MJO menarik massa uap air dari utara yang bergerak dari arah barat laut, kemudian menjatuhkan hujan berlebihan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Dari pantauan satelit akhir Desember 2007 sampai awal Januari 2008, pergerakan udara dari barat daya itu menuju lokasi tekanan rendah yang ditimbulkan fenomena MJO di selatan Nusa Tenggara timur. Dalam waktu bersamaan, terjadi siklon tropis Melanie di barat Australia atau di arah barat laut Perth," kata Ratag.

Menurut Ratag, awan yang menimbulkan hujan lebat di Jawa Tengah dan Jawa Timur lalu sedikit sekali dipengaruhi siklon tropis Melanie.

Awan itu banyak dipengaruhi ada tarikan tekanan rendah dari fenomena MJO di selatan Nusa Tenggara Timur.

Pada akhir Desember 2007 hingga awal Januari 2008, menurut Ratag, siklon Melanie merupakan sistem perputaran angin tersendiri. Siklon ini terpisah dengan pertemuan massa uap air pada lokasi tekanan rendah yang ditimbulkan MJO di perairan selatan Nusa Tenggara Timur.

"Untuk itulah analisis mengenai MJO menjadi makin menarik. Karena selama ini hujan lebat di wilayah Indonesia sering dikatakan sebagai dampak badai tropis atau sering disebut terkena ekor badai," kata Ratag. (NAW)

Sumber :
Kompas